Kerja Praktek di Proyek Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada ALLAH swt, yang telah memberikan kita nikmat sehat sehingga kita masih bisa tetap menuntut ilmu yang ALLAH turunkan melalui segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Salawat dan salam semoga selalu kita senandungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah berjuang untuk memperbaiki ahlak manusia, kepada sahabat, keluarga juga para pengikutnya hingga akhir zaman.

Di tengah krisis moral yang dihadapi negara Indonesia, kita selaku warga negara harus tetap optimis dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik demi mencapai Indonesia yang adil dan sejahtera. Belajar adalah salah satu cara yang saat ini dirasa cukup bagi mahasiswa untuk berjuang dalam menegakkan keadilan dan moral di negara ini. Dengan terus belajar, saya yakin insyaALLAH jika suatu saat salah satu dari kita (mahasiswa) menjadi orang yang paling berpengaruh di negara ini (wakil rakyat), akan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini dengan apa yang mereka pelajari semasa menjadi mahasiswa. Semoga kita sebagai penerus bangsa tidak menjadi orang yang haus akan kekuasaan, uang dan wanita. Aamiin.

Dalam kesempatan kali ini, saya hendak menuturkan hasil kerja praktek (KP) saya selama semester 6 di Proyek Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M. Semoga dengan penyampaian ini dapat bermanfaat bagi teman2 sekelian, dan semoga bisa berkah untuk kita semua. Jika apa yang disampaikan dalam kalimat kurang berkenan atau tidak sesuai dengan teori yang ada, insyaALLAH saya siap menerima kritik dan saran dari teman-teman sekalian

1. Latar Belakang

Semakin besar perkembangan teknologi di wilayah perkotan semakin membuat masyarakat memiliki jiwa persaingan yang kuat untuk menjadi yang terdepan di wilayah tersebut. Jika hal itu tak terkendali akan mengakibatkan jumlah penduduk yang melonjak dan dapat mengakibatkan kepadatan penduduk. Hal ini yang sedang dirasakan oleh warga Jakarta.

Jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya di Jakarta sangat  menuntut pemerintah Jakarta untuk terus menemukan solusi demi solusi agar warga Jakarta dapat tinggal dengan aman dan nyaman baik dalam pembangunan maupun sosial.

Salah satu masalah besar yang dihadapi warga Jakarta adalah kemacetan. Meningkatnya jumlah penduduk inilah yang menyebabkan kemacetan Jakarta semakin parah. Hal inilah yang menuntut pemerintah untuk membuat suatu solusi untuk mengurai kemacetan yang terjadi. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembangunan sarana dan prasana transportasi yang mana hal ini tidak lepas dari peranan seorang insinyur teknik sipil.

Proses yang dibutuhkan oleh seorang insinyur sipil untuk dapat membangun dan menciptakan bangunan yang kuat, aman, dan nyaman bukanlah merupakan sebuah proses singkat dan instan, melainkan harus melalui proses belajar yang panjang dan matang untuk dapat memahami ilmu-ilmu yang dibutuhkannya dalam proses konstruksi.

Proses belajar ini dilakukan baik dengan mempelajari dan memahami ilmu-ilmu dari dosen di dalam kelas, kegiatan-kegiatan praktikum di laboratorium, ataupun lebih jauh lagi dengan terjun langsung ke lapangan melalui kegiatan Kerja Praktek di proyek pembangunan.

Kegiatan Kerja Praktek di proyek pembangunan dalam kurikulum jurusan teknik sipil adalah salah satu kegiatan wajib yang harus dilakukan seluruh mahasiswa untuk memenuhi tahapan dalam jenjang pendidikannya di bangku perkuliahan. Kerja Praktek ini memiliki peranan yang penting untuk seorang calon insinyur karena ilmu-ilmu yang selama ini hanya dipelajari di dalam kelas tentu dapat dilihat aplikasi kegunaannya dalam kehidupan nyata yaitu dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan ataupun bahkan dengan adanya kerja praktek ini tentu dapat ditarik ilmu-ilmu pelaksanaan yang tidak bisa didapatkan di bangku kuliah.

Melalui kegiatan ini pula mahasiswa memiliki wawasan yang luas terhadap perkembangan pembangunan di bidang konstruksi serta dapat melihat dan mempelajari kebijakan dan cara kontraktor utama sebagai pembangun dalam menghadapi permasalahan yang tidak timbul secara terduga. Sehingga pada akhirnya setelah selesai menyelesaikan pendidikannya di bangku perkuliahan, lulus, dan mendapat gelar, mahasiswa tidak hanya memiliki teori literatur saja namun telah memiliki pengalaman dan gambaran tentang kehidupan pembangunan dan pelaksanaan kegiatan di proyek yang dapat dijadikan bekal untuk kedepannya.

Laporan Kerja Praktek ini disusun berdasarkan data serta pengamatan langsung selama 40 hari yang dilakukan pada PT. PP (Persero), Tbk. selaku kontraktor utama dalam proyek Pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M.

2. Latar Belakang Proyek

Jakarta kini telah menginjak usianya hampir mencapai setengah abad sudah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Seiring dengan pesatnya perkembangan tersebut, Jakarta masih harus berpacu untuk mengatasi berbagai problematika, khususnya terkait dengan lingkungan dan transportasi.

Di bidang transportasi, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor setiap tahun sangat pesat. Dari pertumbuhan kendaraan bermotor ini, penambahan panjang dan lebar jalan ini hanya mencapai 0,01 %. Hal ini sangat tidak seimbang dengan total pertumbuhan kendaraan bermotor yang mencapai 9,9 juta unit pada tahun 2009 sedangkan pada tahun 2007 hanya mencapai 5,2  juta kendaraan bermotor. Menyikapi hal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah strategis, yakni membangun sistem transportasi sebagai salah satu program unggulan (dedicated programme). (Majalah Techno Konstrusi, 2010)

Dengan kondisi demikian perlu strategi penanganan yang tepat. Strategi dual approach dan triple approach cukup tepat yang direncanakan oleh Pemprov DKI Jakarta, yaitu mengarah pada penambahan sistem jaringan jalan seperti Pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M.

Dalam rangka menunjukan keseriusan dari Pemprov DKI Jakarta, maka ditunjuk Dinas Pekerjaan Umum sebagai pengurus sistem transportasi di Indonesia untuk memilih pelaksana-pelaksana terbaik yaitu PT. Waskita Karya, PT. Hutama Karya – PT. Nindya Karya, PT. Yasa Patria Perkasa,  PT. Modern-PT. Lampiri, KSO dan PT. PP (Persero), Tbk.

3. Maksud dan Tujuan Proyek

Maksud dan tujuan dibangunya Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M adalah sebagai salah satu cara Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi masalah kemacetan dan kepadatan kendaraan yang terjadi di Jakarta agar warga Jakarta serta para pengguna jasa transportasi lainnya dapat melakukan perjalanan yang aman serta nyaman.

4. Data Umum Proyek

Proyek Pembangunan Jalan Layang Non Tol Pangeran Antasari – Blok M dikerjakan oleh lima kontraktor utama. Berikut panjang jalan layang dikerjakan oleh kelima kontraktor.

Tabel 2.1 Kontraktor Proyek JLNT P. Antasari – Blok M

No

Kontraktor

Panjang

yang Ditangani

Paket

1

PT. PP (Persero), Tbk

1170 m

Pasar Cipete

2

PT. Waskita

803 m

Cipete Utara

3

PT. Hutama Karya & Nidya Karya

926 m

Taman Brawijaya

4

PT. Yasa Patria Perkasa

1062 m

Prapanca

5

PT. Modern – Lampiri, KSO

904 m

Lapangan Mabak

  1. Nama Proyek                              :      Pembangunan Jalan Layang Non TolAntasari – Blok M (Stage 1 : PasarInpresCipete – LapanganMabak Blok M) Paket Pasar Cinere (Multy Years)
  2. Surat Perjanjian Jasa                 :      Nomor 10037/-1.792
  3. Lokasi Proyek                             :      Pasar Cipete, Jalan P. Antasari
  4. Pemilik Proyek                           :      Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jatakarta dan Dinas Pekerjaan Umum
  5. Konsultan Struktur                    :      PT. Perentjana Djaja
  6. Konsultan Supervisi                   :      PT. Virama Karya

PT. Karya Cipta Utama Mandiri

  1. Kontraktor Utama                     :      PT. PP (Persero), Tbk.
  2. Sub Kontraktor Struktur
    1. Beton Ready Mix                 :      PT. Adimix Precast

PT. Pionir Beton

  1. b.      Stressing                            :      PT. Dinamical Structural System
  2. c.       Tim Erection                    :      PT. Kharisma Karya Kencana
  3. Sumber Dana                              :      APBD Provinsi DKI Jakarta
  4. Sistem Pelelangan                       :      Pelelangan Umum
  5. Sistem Kontrak                           :      Multy Years
  6. Waktu Pelaksanaan                     :      22 November 2010–12 Oktober 2012
  7. Jenis Pekerjaan                            :      Struktur, Mekanical dan Elektrical
  8. Kuantitas Pekerjaan
    1. Deskripsi Proyek                   :      Jembatan dengan Panjang 1.170 m dan Lebar 8,75 m x 2
    2. Jenis Pondasi                              :      Bore Pile
    3. Jenis Struktur  :           Struktur Beton Prategang

5. Data Teknis Proyek

  1. Panjang Jembatan                                     : 1.170 m
  2. Konstruksi Bangunan

Pondasi                                                 : Bore Pile

Pier                                                       : Beton Bertulang

Pier Head                                             : Beton Prategang

Girder                                                   : Box Girder

Pelat Lantai                                          : Aspal

Railing Jembatan                                  : Beton Bertulang

  1. Fungsi Bangunan
    1. Pondasi                : Sebagai penyalur beban terakhir pada struktur ke tanah agar bangunan tidak terjadi penurunan yang tidak wajar ataupun guling.
    2. Pile Cap               : Digunakan agar beban yang tersalur dari pier dapat menyebar dengan merata kepondasi (khususnya pondasi kelompok).
    3. Pier                      : Sebagai penyalur beban dari pier head ke pile cap yang bertujuan agar beban yang tersalur dari pier head danbox girder dapat diarahkan dengan baik.
      1. Pier Head            : Sebagai dudukan box girder  serta sebagai penyalur beban lalu lintas dan box girder ke pier.
      2. Girder                  :  Sebagai balok dengan panjang bentang tertentu  yang berfungsi sebagai penyalur utama dari beban lalu lintas yang nantinya akan di salurkan ke pondasi
      3. Parapet                 : Sebagai jagaan di sisi-sisi jembatan.
      4. Railing                 : Sebagai jagaan di sisi-sisi jembatan.
      5. Lantai Jembatan  : Sebagai perkerasan lentur pada jalan.
  2. Pondasi
    1. Jenis Pondasi                          :        Bore Pile
    2. Kedalaman Pondasi               :        26 – 40 meter
    3. Diameter Pondasi                   :        1,5 m
    4. f’c                                           :        29 MPa
    5. Tebal pile cap                         :        1,75 m – 2,75 m
  3. Struktur Bawah
    1. Pondasi                                          :    Mutu Beton K-350
    2. Pile Cap                                        :    Mutu Beton K-350
  4. Struktur Atas
    1. Pier                                                :    Mutu Beton K-600
    2. Pier Head                                      :    Mutu Beton K-600
    3. Box Girder                                    :    Mutu Beton K-600 ( Precast )
    4. Parapet dan Railing                       :    Mutu Beton K-350
  5. Tendon                                                 :    7 Wire-Strand mutu tinggi G-270
  6. Baja Tulangan                                      :    D > 13 mm BJTD 40

D < 13 mm BJTP 24

6. Data Administrasi Proyek

  1. Tipe Kontrak                                 :     Unit Price Contract
  2. Sistem Pembayaran                       :     Unit Price Contract.
  3. Nilai Proyek                                  :     Rp. 325.499.285.000,00
  4. Nilai Kontrak (Penawaran)           :     Rp. 309.347.000.000,00
  5. Uang Muka                 :           5% dari nilai proyek

7. Definisi Managemen Proyek

Pelaksanaan pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete adalah suatu pekerjaan yang mengharuskan pemahaman dalam perencanaan proyek manajemen, manajemen harga, manajemen waktu, manajemen kualitas, administrasi kontrak, manajemen keselamatan, dan praktek profesional agar terciptanya hasil pekerjaan yang baik dan sesuai dengan harapan.

Manajemen proyek itu sendiri memiliki definisi pengelolaan perencanaan (rencana kerja), pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi suatu proyek dari awal pelaksanaan pekerjaan sampai selesainya proyek secara efektif dan efisien, untuk menjamin bahwa proyek dilaksanakan tepat waktu, tepat biaya, dan tepat mutu (Ervianto, 2003).

Dalam proses pelaksanaan sebuah proyek ada 3 hal yang sangat berkaitan erat dan mempengaruhi kualitas suatu pengerjaan proyek (triple constrainst), yakni jadwal, mutu dan dan anggaran biaya proyek. Dibutuhkan pengaturan khusus yang tersusun secara sistematis dan terkonsep dengan baik agar ketiga aspek tersebut dapat terpenuhi sehingga diperoleh hasil yang baik yang sesuai perencanaan proyek. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen proyek adalah:

  1. Perencanaan (planning)

Setiap proyek selalu dimulai dengan proses perencanaan. Dalam tahap perencanaan biasanya diawali dengan brainstorming dalam team. Dibutuhkan pengalaman-pengalaman yang cukup dan analisa suatu masalah yang matang dalam proses perencanaan. Sasaran perencanaan yang harus direncanakan diantaranya: perencanaan biaya, perencanaan rnutu, perencanaan waktu dan perencanaan kearnanan kerja. Dalarn perencanaannya, proyek Pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete  ini akan rnernakan waktu pelaksanaan konstruksi struktur selarna dua tahun (2010 – 2012). Penjadwalan awal (Master Time Schedule) pada proyek ini dibuat dalam bentuk kurva S yang dapat dilihat pada larnpiran dari laporan ini.

  1. Penjadwalan (scheduling)

Merupakan implementasi dari perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek yang meliputi sumber daya (biaya, tenaga kerja, peralatan, material), durasi, dan progress waktu untuk menyelesaikan proyek.Penjadwalan proyek mengikuti perkembangan proyek dengan berbagai permasalahannya.

Proses monitoring dan updating dalam suatu proyek harus selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis agar sesuai dengan tujuan proyek.Ada beberapa metode untuk mengelola penjadwalan proyek, yaitu kurva S (hanumm curve), barchart, penjadwalan linear (diagram vektor), network planning waktu dan durasi kegiatan.Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana semula, maka dilakukan evaluasi dan tindakan koreksi.

Pada lampiran dicantumkan “s” curve pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M, dimana keterangan dalam “s” curve itu adalah sebagai berikut:

  1. Sisi atas menunjukkan waktu pelaksanaan pekerjaan.
  2. Sisi bawah menunjukkan total rencana dan total pelaksanaan dalam persentase.2
  3. Sisi kanan menunjukkan pembagian pekerjaan dalam persentase.
  4. Sisi kiri menunjukkan nilai bobot pekerjaan dalam persentase.
  5. Pengarahan (Directing)

Pengarahan adalah kegiatan mobilisasi sumber-sumber daya yang dimiliki agar dapat bergerak secara satu kesatuan sesuai rencana yang telah dibuat, termasuk didalamnya melakukan motivasi dan koordinasi terhadap seluruh staffnya.

  1. Pelaksanaan (Actuating)

Mengkoordinasi pelaksanaan proyek agar sesuai dengan perencanaan (Planning), spesifikasi teknik dan gambar proyek yang telah disepakati dalam tender.

  1. Pengendalian (Controlling)

Pengendalian merupakan tindakan memonitor, memantau dengan cara mengukur kualitas penampilan dan penganalisaan serta pengevaluasian penampilan yang diikuti dengan tindakan perbaikan yang harus diambil terhadap penyimpangan yang terjadi (diluar batas toleransi). Dalam pengendalian ini, mencakup kegiatan pengawasan yang dilakukan secara kontinu dari waktu ke waktu guna mendapatkan keyakinan bahwa pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan guna mencapai hasil yang diinginkan. Tugas tindakan mengontrol bukan berarti hanya menyalahkan orang lain, tetapi juga mencari dan menentukan alternatif terbaik dalam tindakan pencegahan (preventive action) dan perbaikan atas ketidaksesuaian yang terjadi.

Tindakan tersebut meliputi, pengukuran kualitas hasil, membandingkan hasil terhadap kualitas, mengevaluasi penyimpangan yang terjadi, memberikan saran-saran perbaikan dan menyusun laporan kegiatan.

  1. Evaluasi (Directing)

Evaluasi adalah spesifikasi pekerjaan, membandingkan realisasi dengan rencana, pengambilan langkah-langkah yang diperlukan dan jika perlu diadakan perencanaan ulang (replanning).

8. Struktur Organisasi Proyek

struktur

Gambar 1. Struktur Organisasi Proyek

9. Pengendalian Proyek (Mutu, Waktu dan Biaya)

Pengawasan dan pengendalian dalam suatu proyek konstruksi merupakan sesuatu yang penting dilaksanakan secara ketat untuk menghindari hal-hal yang merugikan terutama bila berada dalam kondisi rentang waktu yang sempit karena pada saat-saat itulah sering terjadi kelalaian untuk mutu yang harus dicapai.

Umumnya pengawasan proyek bersifat preventif sejauh mana peningkatan pekerjaan dan memeriksa apakah pekerjaan tersebut sudah memenuhi spesifikasi gambar rencana dan tujuan yang telah dibuat.Sedangkan pengendalian perlu dilakukan sebagai tindak lanjut dari pengawasan untuk mengontrol kualitas pekerjaan agar sesuai dengan rencana.

Tujuan yang ingin dicapai dari pengendalian ini adalah:

  1. Agar memperoleh bangunan yang sesuai dengan standar mutu, serta memperhatikan ketentuan dan prosedur dari instansi yang berwenang dalam masalah pengendalian mutu.
  2. Waktu pelaksanaan proyek sesuai dengan time schedule sehingga pihak pemilik proyek maupun pelaksana tidak merasa dirugikan karena adanya keterlambatan (pengendalian waktu).
  3. Peningkatan efisien pekerjaan sehingga dapat meminimalkan pengeluaran keuangan proyek (pengendalian biaya).

Maka untuk terciptanya itu semua diperlukan beberapa pertimbangan agar mendapatkan rencana kerja yang baik dan teliti, yaitu sebagai berikut:

  1. Metode pelaksanaan pekerjaan.
  2. Dana yang tersedia.
  3. Bahan bangunan/material yang tersedia.
  4. Peralatan yang digunakan.
  5. Waktu yang telah ditentukan.
  6. Tenaga kerja yang tersedia.

9.a Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu/kualitas (quality control) merupakan salah satu pelaksanaan pengendalian proyek, yaitu kualitas hasil pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Pengendalian mutu dilaksanakan secara terus-menerus mulai dari tahapan pra pelaksanaan, pelaksanaan, sampai pasca pelaksanaan. Pada pelaksanaan pekerjaan proyek, bahan-bahan bangunan mutlak berpengaruh terhadap kualitas produk fisik proyek. Untuk itu bahan-bahan yang digunakan haruslah memenuhi spesifikasi, karena akan berpengaruh terhadap kekuatan dan daya tahan konstruksi. Hal lain yang harus diperhatikan adalah tempat dan cara penyimpanan, sehingga tidak merusak kualitas bahan itu sendiri.

Dalam mencapai kualitas bahan yang baik maka digunakan standar mutu dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi yang meliputi:

  1. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI – 1971)
  2. Peraturan Semen Portland Indonesia (SNI – 08)
  3. Standar Pembebanan untuk Jembatan (RSNI T-02-2005)
  4. Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SNI-12-2004)
  5. Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan mengenai Persyaratan Tahan Gempa (BMS 1992)
  6. ASTM (American Society for Testing and Material)

Pada umumnya penilaian material meliputi segi kualitas material mudah tidaknya mendapatkan material tersebut, harga material.

 a. Mutu Betom

Pelaksanaan pengendalian mutu pekerjaan beton dilakukan dengan semua bahan beton yang akan dipergunakan. Bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi persyaratan SNI 03-2847-2002. Beton yang digunakan adalah beton ready mix dengan mutu beton K-350 utnuk beton bore pile, parapet, railing dan pile cap, K-600 untuk beton pier, hammer head dan box girder.

Untuk setiap pengiriman beton ready mix dipilih secara acak dari satu batch yang akan diambil benda uji silinder namun seharusnya pada proyek JLNT ini diambil sampel pada setiap pengiriman 10 m3. Dengan kesepakan dari pihak monitoring DPU, konsultan supervisi dan kontraktor diambil sample secara acak setiap 10 molen yang datang.

b. Mutu Beton Box Girder

Box girder adalah bahan utama dalam pembangunan JLNT ini.Ada sesuatu yang istimewa dari box girder dibandingkan dengan bagian lain yang terbuat dari beton. Hal istimewa tersebut adalah dari pembuatannya yaitu dibuat dimana batching plan berada dan dipasang pada lokasi proyek setelah umur beton mencapai 28 hari. Pada proyek JLNT ini menggunakan beton precast PT. Adimix Precast yang ada di Cibitung, Cikarang.

box girder

Gambar 3.2 Box Girder

Untuk menjaga mutu dan ukuran dari box girder sesuai yang direncanakan dari pihak kontraktor mengirimkan tim yang akan tinggal di tempat pembuatan box girder untuk mengawasi pengecoran. Selain tim tersebut, kontraktor juga mengirimkan tim bersama konsultan supervisi untuk melakukan inspeksi terhadap box girder yang sudah siap pasang. Hal ini dilakukan agar jika ada mutu dan ukuran yang  menyimpang dapat segera diatasi sehingga tidak akan menghambat pekerjaan di lapangan.

Untuk satu buah box girder ini memerlukan sebanyak 18 m3 dengan mutu K-600 yang mana dalam melakukan pengecoran tidak diperkenankan tertunda. Jadi, dalam proses ini, 5 buah molen sudah disiapkan didekatkan box yang akan dicor yang masing-masing terdiri dari 4 m3  beton. Jika dalam pengecoran terputus atau tertunda yang akan terjadi adalah perbedaan warna sehingga tidak estetik dan akan terlihat adanya keretakan yang disebabkan adanya rongga akibat bekas coran yang lama dengan yang baru.

c. Mutu Air

Pengendalian terhadap air yang digunakan haruslah bebas dari bahan organik, garam, zat asam, ataupun minyak dan kotoran-kotoran lainnya dalam jumlah cukup besar yang dapat mengurangi ketahanan beton dan baja tulangan. Sedangkan apabila terdapat keraguan terhadap air yang digunakan dapat dilakukan pengetesan di laboratorium untuk mendapatkan keterangan tentang kelayakan air.

Dalam hal pengendalian material agar terjaga kelancaran pelaksanaan proyek dan mengurangi sampah yang dihasilkan (waste) maka diperlukan pula beberapa kebijakan oleh material manager yang meliputi:

  1. Menggunakan material baru sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Struktur dan tidak memperbolehkan pekerja untuk membawa serta memiliki material bekas untuk mencegah penyalahgunaan bahan.
  2. Menyetujui dan memesan material hanya sebesar kebutuhan yang dibutuhkan dalam kurun waktu terbatas.
  3. Material sisa yang masih berkualitas baik dan sekiranya masih dapat digunakan untuk keperluan pelengkap disimpan dan dicatat secara khusus untuk menghindari terjadinya kehilangan.

d. Pembesian

Besi beton yang dipakai adalah besi beton ulir (deformamed bar) untuk D>13 dengan tegangan leleh 4000 kg/cm2 (BJTD-40) dan besi polos (plain bar) untuk D<13 dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2 (BJTP-24).

pembesian

Gambar 3.3 Pembesian Parapet dan Railing

e. Bekisting

Bekisting yang digunakan adalah terbuat dari pelat phenol film yang mana salah satu bidangnya mempunyai sifat yang licin. Phenol film ini memiliki keunggulan dibandingkan bekisting yang biasa, salah satunya yaitu bisa digunakan beberapa kali sehingga dapat menghemat juga berpartisipasi dalam program bangunan ramah lingkungan (green building).

bekisting

Gambar 3.4 Bekisting

9.b Pengendalian Waktu Pelaksanaan

Pengendalian waktu pada suatu proyek pada umumnya dilakukan dengan sistem penjadwalan yaitu pembuatan time schedule. Time Schedule adalah metode pengendalian proyek yang merupakan proses pemikiran yang tangguh dalam mengatasi persoalan pelaksanaan pekerjaan berdasarkan teori dan pengalaman. Pembuatan Time Schedule dapat menentukan saat mulai pelaksanaan dan berakhirnya suatu pekerjaan, memperkirakan jumlah dan jenis material yang dibutuhkan maupun yang tersedia di proyek. Penyusunan Time Schedule membutuhkan data tentang:

  1. Waktu yang tersedia, meliputi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masing-masing pekerjaan proyek secara keseluruhan.
  2. Pertimbangan tenaga kerja yang tersedia/dibutuhkan berdasarkan keterampilan, keahlian buruh serta harga bahan dan upah.

Keadaan lingkungan (lokasi proyek) sebelum proyek tersebut dilaksanakan.

  1. Gambar-gambar bestek adalah gambar arsitek, struktural, mekanikal, elektrikal, plumbing, penangkal petir dan pekerjaan halaman.
  2. Peraturan dan persyaratan bestek.
  3. Kondisi, kapasitas alat kerja yang dibutuhkan dalam pelaksanaan suatu proyek dari segi mutu dan kualitas.

Tujuan dari pembuatan Time Schedule adalah:

  1. Mengatur pekerjaan secara teliti.
  2. Memudahkan penentuan pelaksanaan pekerjaan pada waktunya.
  3. Dapat menentukan kegiatan kritis karena akan mempengaruhi cepat atau lambatnya penyelesaian pekerjaan suatu proyek.

Pembuatan Time Schedule dapat memudahkan pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan. Pembuatan Time Schedule sangat membutuhkan kemampuan berfikir secara logis, pengetahuan tentang teknik sipil, pengalaman kerja sehingga mendapat hasil maksimal. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam menyusun pembuatan Time Schedule diantaranya adalah:

  1. Time Schedule harus dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
  2. Disusun berdasarkan forecast yang akurat.
  3. Sesuai dengan sumber daya yang tersedia.
  4. Fleksibel terhadap perubahan-perubahan, misalnya perubahan spesifikasi proyek.
  5. Cukup mendetail untuk dipakai sebagai alat pengukur progress proyek.

Pembuatan Time Schedule sangat mempengaruhi kondisi situasi proyek sehingga pelaksanaan suatu proyek dapat dikontrol, tidak menyimpang dari ketentuan dan dapat dipertanggungjawabkan.

9.c  Pengendalian Biaya

Yang dimaksud dengan pengendalian biaya proyek adalah semua upaya atau usaha yang dilakukan oleh seluruh staf proyek (kepala proyek dan staf), agar biaya pelaksanaan proyek menjadi wajar, murah, dan  efisien sesuai dengan rencana atau hasil evaluasi yang telah dilakukan. Pengendalian biaya pelaksanaan proyek terkait erat dan sangat dipengaruhi oleh :

  1. Pengendalian waktu pelaksanaan proyek (efek dari penambahan biaya tidak langsung).
  2. Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan proyek (efek dari pekerjaan ulang,  finishing, pembongkaran, dan lain-lain yang harus menambah biaya lagi, yaitu biaya langsung maupun tidak langsung).
  3. Pengendalian sistem manajemen operasional proyek yang bersangkutan, yang kurang baik  atau tidak konsisten dalam pelaksanaannya atau penerapannya (efek penambahan biaya karena inefektivitas dari cara dan sistem kerja serta efisiensi realitas biaya pekerjaan dari yang seharusnya direncakanan).

Pengendalian biaya dilakukan secara rutin selama pelaksanaan proyek, dan hasilnya diwujudkan dalam bentuk laporan yang berisikan rincian pemasukan dan pengeluaran operasional dan non operasional. Sistem pengupahan pada joint operation  dibayar dengan empat macam cara, yaitu sebagai berikut :

  1. Upah Bulanan

Upah bulanan yaitu upah yang dibayarkan setiap bulan kepada tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Perbedaannya adalah jika tenaga kerja tetap (staff) selain upah bulanan tidak akan ada potongan gaji bila tidak masuk kerja dengansuatu alasan.

  1. Upah Mingguan

Upah mingguan yaitu upah yang dibayarkan berdasarkan volume pekerjaan yang dicapai. Hasil pekerjaan diperiksa setiap hari Sabtu. Sistem pembayarannya adalah kontraktor membayar kepada bos borong/mandor berdasarkan volume pekerjaan yang telah diselesaikan atau sesuai progress/kemajuan per 15 hari, lalu bos borong/mandor yang akan mengatur pembayarannya kepada para pekerja.

  1. Upah Harian

Upah harian yaitu upah yang diperhitungkan secara harian tergantung pekerjaan (tukang, K3). Upah harian ini dibayar seminggu sekali yaitu setiap hari Sabtu.Pembayaran upah dihitung dari jumlah hadir, sedangkan besar atau kecilnya upah per harinya tergantung keterampilan dan prestasi kerja yang bersangkutan.

  1. Upah Lembur

Upah lembur yaitu upah yang dibayarkan untuk kerja diluar jam kerja biasa.Besarnya disesuaikan dengan perjanjian yang telah disetujui oleh pekerja sebelum kerja lembur dilaksanakan.

9.d Pengendalian Keselamatan Kerja

K3 sangat penting dalam pelaksanaan suatu proyek. Semakin kecil tingkat kecelakaan dalam suatu proyek, maka nama baik suatu perusahaan kontraktor akan semakin baik. Oleh karena itu, di PT. PP (Persero), Tbk ini, K3 sangat diutamakan.Salah satu kegiatannya adalah selalu melakukan pendekatan psikis kepada para pekerja mengenai pentingnya K3 setiap minggunya. Dengan hal ini, diharapkan para pekerja menyadari akan dibutuhkannya peralatan K3, karena tanpa kesadaran dari pekerja, tim safety tidak ada gunanya.

Pada penerapan program K3 pada proyek JLNT Antasari-Blok M terdiri dari beberapa point utama, yaitu:

1)                  SHE Introduction     :    yaitu pengarahan K3 kepada pekerja baru

2)                 SHE Talk                  :    yaitu pengarahan K3 kepada pekerja setiap hari jumat

3)                 Inspeksi                    :    yaitu monitoring pelaksanaan K3 di lapangan

4)                 Training K3              :    pelatihan kepada pekerja, sub kontraktor tentang K3

  K3

Gambar 3.5 SHE Introduction  (kiri), SHE Talk (tengah),

Rambu-rambu K3 (kanan)


Demikian Penuturan singkat dari hasil laporan Kerja Praktek saya. Mendapatkan laporan yang lengkap hingga ke masalah khusus bisa download file laporannya di sini. Penulisan di blog ini tidak saya lengkapi karena mungkin akan kurang menarik jika saya tuliskan keseluruhannya, Tapi jika saya tampilkan laporan aslinya semoga dapat menjadi lebih menarik untuk membacanya. Aamiin

download file

Atas segala kekurangan dan kesalahan baik tutur kata maupun penulisan, saya mengucapkan mohon maaf dan terimakasih.

Barakallah

Assalamu’alaikum

Iklan

Satu pemikiran pada “Kerja Praktek di Proyek Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete

  1. kq g’ bsa di dowload..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s