Menyikapi Perbedaan Awal Ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada ALLAH swt. yang telah dan masih mengizinkan kita menemui bulan yang begitu mulia ini, yaitu Bulan Suci Ramadhan,. Semoga dengan datangnya bulan ini, memberikan kita motivasi akan mengubah sikap dan akhlak kita menjadi lebih baik, tidak hanya dibulan ini saja, tapi bulan-bulan selanjutnya juga. Aamiin

Salawat juga salam semoga selalu terucap kepada Nabi Muhammad saw. keluarga, sahabat juga kepada pengikutnya hingga akhir zaman. Aamiin

Hmm, hari ini pasti temen2 lagi pada galau nih mau tarawih atau tidak. Hehe. Sama saya juga. Galau galau mau. Ya, kita lihat saja. Apapun yang diputuskan, apapun yang diperoleh, apapun yang kita terima semoga menjadi amal ibadah yang diterima oleh ALLAH swt. Aamiin

Di Indonesia bahkan di dunia (yang saya lihat selama 20 tahun ini), hal yang sering terjadi bahkan bisa membuat saling menggunjing saat2 menjelang Ramadhan adalah perbedaan hari awal berpuasa. Sering sekali dihati penulis bertanya2, “Akankah suatu hari kita dapat menjalan awal puasa dan lebaran bersama-sama”. Ya, itu harapan besar dalam hati ini dan mungkin juga hati kawan2 sekalian.

Dalam tulisan kali ini, saya tidak berniat memojokkan siapa pun, termasuk ormas-ormas dan pemerintah. Saya pribadi hanya berniat ingin sharing aja berbagi sedikit ilmu yang telah saya dapatkan. Dalam kasus ini, perbedaan tidak menjadi masalah. Bahkan kaka adik pun memiliki sifat yang berbeda. Sebenarnya yang jadi masalah itu kalau perbedaan ini tidak pernah didiskusikan sehingga tidak pernah menemukan titik temu dimana letak perbedaan itu dan seperti apa mengubahnya.

Dalam fiqih, penguasa ialah badan tertinggi yang mempuanyi wewenang penuh dalam menaggulangi perbedaan yang terjadi pada rakyatnya. Dalam litelatur, istilah dikenal dengan sebutan Hakim atau Sulthon. Penguasa menjadi suatu badan yang memiliki wewenang dalam memutuskan suatu perkara BERDASARKAN Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nah, bisa teman-teman lihat, saya memberikan huruf kapital pada kata di atas. Sedikit ditekankan nih, Penguasa bukan seperti preman atau sejenisnya, tapi penguasa dalam hal positif.

“Hukmul-Haakim Ilzaamun Yarfa’u Al-Khilaf (Keputusan hakim adalah suatu yang harus ditaati sebagai pemutus perbedaan). Itulah salah satu kaidah fiqih yang pernah saya dengar. Nah, ini berlaku untuk segala hal. Jadi, keputusan kita sekarang kepada yang berhak yaitu Hakim. 14 Abad yang lalu yang menjadi hakim bagi umat islam di dunia adalah Nabi Muhammad saw. Beliau lah yang memutuskan segala perkara yang dihadapi umatnya termasuk perkara awal ramadhan.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuanhu bahwa orang-orang mencari-cari hilal. Aku memberitahukan Nabi SAW bahwa diriku telah melihatnya, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim)

Di sana ada hal penting dikatakan bahwa “Aku memberitahukan”. Kata itu mengartikan bahwa seseorang sedang mengabarkan Rasulullah saw. tentang hilal. Maka yang memutuskan adalah Rasulullah (Dalam hal ini, Hakim). Adalagi hadits yang membahas tentang keputusan awal ramadhan seperti dibawah ini:

Seorang a’rabi datang kepada Nabi SAW dan melapor, “Aku telah melihat hilal”. Rasulullah SAW bertanya,  “Apakah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya?”. Dia menjawab, “Ya”. Beliau berkata, “Bilal, umumkan kepada orang-orang untuk mulai berpuasa besok”. (HR. Tirmizy dan An-Nasa’i)

Melihat sejarah dan kisah2 Penentuan awal Ramadhan pada massa Nabi Muhammad saw, dilihat bahwa semua yang diputuskan berasal dari Nabi Muhammad saw. Asalkan seorang yang bersaksi bahwa hilal telah muncul itu dia adalah orang yang benar2 terpercaya juga.

Selain menyangkut mengenai hal yang penentuan awal Ramadhan. Hal-hal ini pun bisa kita kaitkan mengenai Demokrasi dan Musyawarah. Dari kisah-kisah di atas, saya pribadi mengambil suatu makna tentang perbedaan antara Demokrasi dengan Musyawarah. Saya pribadi menganggap Demokrasi dengan Musyawarah itu berbeda. Menurut pengertian saya, Demokrasi itu sama saja seperti Voting siapa yang banyak dia yang menang tapi tidak memperdulikan keikhlasan dari yang dikalahkannya. Musyawarah itu kita berunding, bisa juga dengan voting, tapi jika voting sudah selesai maka semuanya berdiskusi apakah hasil voting sesuai dasar hukum atau tidak. Jika memang ada sanggahan seharusnya diungkapkan sebelum voting dimulai.

Salah seorang penulis blog yaitu Ahmad Zarkasih dari blognya http://zarkasih20.blogspot.com beliau bertemu salah seoran g petinggi salah satu ormas yaitu Prof. Dr. Susiknan Azhari, belia adalah seorang guru besar ilmu Falak dari UIN Yogyakarta.

 Beliau menyatakan secara jujur bahwa ini soal identitas. Mau kah kita melepas identitas kita untuk persatuan umat? Kalau memakai metode kelompok itu akan menonjolkan identitas, dan memang itu yang dicari. Tetapi rela kah kita melepas identitas ini dengan rela ikut bersama yang lain?
Kalau masing-masing tetap keukeuh akan identitas masing-masing, yaa selesai sudah perkara. Impian puasa dan lebaran barenga cuma jadi hiasan wacana di media saja. Sangat sulit bisa terwujud, kecuali kalau kebetulan. Kebetula hitungan rukyah dan hisabnya sama. Itu saja!
Padahal di Negara-Negara Timur Tengah pun sama seperti Indonesia, yaitu memiliki berbagai ormas Islam, bahkan bisa lebih parah dari kita. Mereka tidak segan mengkafirkan seseorang yang bahkan satu aliran dengannya. Tapi, ketika penentuan ramadhan sudah tetapkan pemerintah, mereka semua legowo walaupun hasil perhitungan metode mereka berbeda dengan hasil pemerintah. Mereka ikut dan berpuasa dan berlebaran bersama-sama. Bayangkan jika memang masing-masing ormas di Negara-Negara Timur Tengah tetap keukeuh dengan hasil perhitungan mereka, bisa-bisa Ibadah haji yang dilakukan bisa beda-beda pula dikerjakannya. Pasti akan lebih repot lagi muslim seluruh dunia.
Dari tulisan di atas, penulis mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang tertulis maupun tersirat. Saya tidak bermaksud menyinggung salah satu atau lebih dari ormas2 muslim atau pun pemerintah. Tapi dalam tulisan ini saya pribadi menyimpulkan, masalah yang dialami muslim saat ini yaitu di antara 2 hal berikut Apakah pemerintah memiliki kesalahan sehingga ada ormas yang tidak mempercayai keputusan pemerintah atau ormas itu hanya ingin identitas semata yang tidak ingin melepaskannya? Semoga dengan 2 pertanyaan tersebut, kita bisa sama-sama memiliki fikiran “Bisa berpuasa dan berlebaran di hari yang sama”. Agar tidak terjadi saling gunjing atau menjatuhkan satu sama lain
Kurang lebihnya mohon maaf, semoga tulisan ini dapat diambil manfaatnya dan dikoreksi akan kesalahannya agar tak terulang lagi di kemudian hari
Wallahu a’lamu bish showab
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s