Memilih/memperkirakan pemimpin yang adil dan bijak itu mudah loh…….

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat ALLAH swt. yang telah memberikan kita semua nikmat sehat jasmani dan rohani sehingga kita masih tetap melaksanakan aktifitas kita sehari-hari.

Salawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw., keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Setahun lagi, negara kita ini akan berganti kepemimpinan. pemilihan umum akan dilaksanakan tahun depan. Seluruh rakyat Indonesia mulai berfikir siapa yang akan mereka percaya untuk memimpin negeri ini. Siapa pun yang terpilih, dia memiliki tanggung jawab yang besar, dan kita sebagai rakyat sudah sepatutnya memberikan hormat dan nasehat yang baik kepada beliau-beliau yang terpilih.

Kemajuan negeri ini, tidak hanya bergantung dari para presiden. Gubernur, Bupati, Walikota bahkan pedagang pun ikut berpengaruh dalam perkembangan di negara kita ini. Kenapa demikian? Karena setiap manusia adalah pemimpin, minimal dia adalah pemimpin untuk diri dia sendiri.

Dalam tema kali ini, penulis tidak bermaksud menyindir para calon presiden kita, tetapi untuk kita semua agar NKRI ini tetap bisa menjadi negara hingga akhir zaman kelak. Dalam teman kali ini, penulis pun bertujuan ingin berbagi sedikit ilmu yang saya punya kepada rekan-rekan sekalian. Ya, maklum lah, belum bisa jadi wakil rakyat, paling gak bisa nyumbang pake ilmu demi kemajuan bangsa tercinta ini. Aamiin

Memilih pemimpin itu bisa dibilang cukup sulit di masa sekarang ini. Hmm, kenapa ya??? ya bingung jg saya, hehehe. Sebenarnya mudah saja loh. Gak percaya??? Teman-teman tentunya percaya dong kalau Khulafaur Rasyidin itu pemimpin-pemimpin yang luar biasa bijaksana? Nah, sudah pada tahu belum nih bagaimana cara umat muslim saat itu memilih pemimpin-pemimpin mereka? Mungkin kisah yang akan saya ceritakan di bawah ini sudah pada tahu. Tapi agar teman2 tetap mengingat perjuangan para Khalifah tersebuh, alangkah baiknya jika saya menceritakan lagi ya. hehehe.

Sebelum menuju ke salah satu kisah Khulafaur Rasyidin mari kita simak dahulu pesan/wasiat dari Khalifah Umar bin Khattab ra. kepada ahli syura (calon kandidat khalifah berikutnya yang saat itu ada 6 orang) saat pemilihan Khalifah ketiga “Jika kalian saling membantu, saling percaya dan saling menasehati, maka kuper­cayakan kepemimpinan ummat kepada kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki, saling membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepe­mimpinan itu akhirnya akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!”. 6 orang tersebut salah satunya adalah Usman bin Affan ra.

oia, pemilihan khalifah ke tiga ini berbeda loh dari cara2 sebelumnya. Kali ini pengangkatannya tidak melalui penunjukan melainkan melalui syura yang dilakukan oleh ke enam kandidat tersebut.

Perlu diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan sudah beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala daerah oleh Umar Ibnul Khattab r.a.

selain itu, sebelum memilih 6 kandidat, ada seorang sahabat yang memberikan usul agar Abdulah bin Umar, putra sulung Umar ibnu Khattab ra. yang menjadi khalifat namun Umar ra. dengan tegas menjawab :”Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu. Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!”

Sebelum khalifah Umar bin Khattab ra. wafat beliau sempat berpesan kepada Talhah Al Anshori “Abu Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah 50 orang Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka (6 orang Ahlu Syuro) supaya segera menyelesaikan urusan mereka (untuk memilih siapa di antara mereka itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah). Kumpulkan mereka itu dalam sebuah rumah. Engkau bersama-sama teman-temanmu berjaga jaga di pintu. Biar­kan mereka bermusyawarah untuk memilih salah seorang di an­tara mereka.”

Dari kalimat di atas pun, sudah bisa teman2 simpulkan sendiri seperti apa proses pemilihan pemimpin saat itu. Menurut saya ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Bahkan sepertinya lebih luar biasa dibandingkan demokrasi. hehehe. Soalnya menurut saya, luar biasa pemilihan pemimpin ini hanya dipilih oleh 6 orang, dan 6 orang itu adalah kandidat itu sendiri. Begitu besar hati 6 orang tersebut yang harus memilih nama kandidat lain sedangkan diri mereka ada dalam kandidat tersebut. Memang hebat pemimpin yang bijaksana dan adil itu. hehehehe. Lanjut lagi.

“Oia, sebelum lanjut ada yang lupa nih, saat Khalifah Umar ibnu Khattab ra. memberikan wejangan kepada 6 kandidat khalifah berikutnya, Umar ra. sedang terluka parah loh oleh tusukan pisau akibat serangan diam-diam yang dilakukan oleh orang majusi yang bernama Abu Lu’lu ah. Hebat ya pemimpin kita yang satu ini. hehehe

Dan satu lagi, beliau ketika membuat peraturan baru, yang pertama kali dipanggil untuk melakukan percobaan peraturan tersebut adalah keluarga beliau sendiri. Jika ada yang melanggar maka hukumannya lebih berat di bandingkan rakyat yang lain. dan saat daerahnya paceklik, dia juga pernah berkata “Kalau rakyat hanya bisa makan roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka, dan aku pun harus berbuat seperti itu juga.” Ingin bisa kayak gitu ya….”

Baik kembali ke Topik. Hehehe.  6 orang kandidat ini di beri waktu tiga hari untuk memilih siapa yang akan diberi tanggung jawab yang nantinya akan menentukan surga atau neraka bagi siapa yang memegang tanggung jawab itu. Jika ia bisa adil, maka surga. Jika Tidak, maka Neraka.

“Jika yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, peng­gallah leher orang yang menentang itu! J’ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang itu! Jika tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang yang diantaranya termasuk Abdurrahman bin ‘Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga orang ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menen­tang,penggal saja leher tiga orang yang bersikeras itu!.”

“Jika sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan urusan mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri memilih siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !”.

Dari beberapa penggalan kalimat Umar ra. jelas terlihat rasa tanggung jawab yang besar guna meneruskan perjuangannya memimpin umat ini.  Sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan cara-­cara pengangkatan seorang Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka tikaman sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan um­mat Islam sebaik-baiknya.

Sebelum masuk proses Musyawarah 6 kandidat ini mari kita kenal kan dahulu para kandidatnya.  Umar r.a. mengungkapkan, bahwa sebelum wafat, Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan QureiysYaitu Ali bin Abi Thalib, ‘Utsman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin Al ‘Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ‘Auf. Aku berpendapat”, kata Umar r.a. lebih jauh, “sebaiknya kuse­rahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih.”

Setelah Umar ibnu Khattab ra wafat dan dimakamkan, akhirnya masing-masing kandidat memilih kandidat yang lain. Dari sekian banyak perbincangan dalam musyarawah 6 kandidat ini, saya akan meringkas yang insya ALLAH semoga tidak mengurangi makna yang sangat berharga dalam musyawarah ini. Aamin.

Berikut masing-masing kandidat dan pilihannya:

Thalhah ra. memilih Usman ra.

Zubair ra. memilih Ali ra.

Sa’ad ra. memilih Abdurrahman ra.

Abdurrahman ra. memilih Usman ra. dan Ali ra.

Ali ra. memilih Usman ra.

Usman ra. memilih Ali ra.

Dalam tahap pertama ini sudah dilihat ada 2 nama yang mencolok, yaitu Usman bin Affan ra. dan Ali ibnu Abi Thalib ra. Abdurrahman bin Auf ra pun bertanya “Siapa di antara kalian yang bersedia di baiat”. Namun keduanya tak menanggapinya sedikit patah kata pun. Akhirnya Abdurrahman ra. bertanya kepada Ali ra. “Bagaimana kalau aku membai’at anda untuk bekerja berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang Khalifah yang lalu?”

Menghadapi pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Imam Ali r.a. menjawab: “Tidak! Aku menerima (pembai’at­an itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan ijtihadku sendiri.”

Tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Imam Ali r.a., Abdurrahman bin Auf mengajukan pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas Utsman bin Affan r.a. menjawab: “ya!”

Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan pertanyaan yang sama kepada Imam Ali r.a. Imam Ali r.a. tetap pada jawaban semula. Akhir­nya Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. kemudian memegang tangannya. Ini sebagai tanda pembai’atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a. Prakarsa Abdur­rahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai’atan Khalifah baru, untuk menggantikan Khalifah Umar r.a. yang te­lah wafat.

Setelah itu Usman bin Affan ra pun menjalani kehidupannya dengan sangat sederhana dan penuh tanggung jawab. kasih sayangnya kepada ummat muslim yang dipimpinnya begitu besar. dan singkat cerita Beliau wafat akibat di bunuh yang mana sebelum pembunuhan tersebut rumah beliau sudah di kepung oleh musuh. Sudah banyak sahabat yang ingin mengorbankan diri demi melindungi khalifah yang penuh ramah tamah dan kasih sayang ini. Namun, Usman bin Affan ra. tak pernah ingin menyusahkan orang disekitarnya dan menyuruh mereka pergi karena sangat berbahaya berada dirumah Usman ra. Dan orang terakhir yang mencoba melindunginya pun disuruh pergi yaitu Ali ibu Abi Thalib ra.

Seperti itulah sedikit cerita mengenai detik-detik pemilihan khalifah ke tiga yang di ambil dari beberapa sumber dari Internet maupun buku. Jika ada yang salah, saya dengan senang hati menerima kritik dan saran dari teman-teman semua. Setiap manusia tak luput dari salah dan dosa. Semoga di lain kesempatan saya bisa menceritakan kisah lain dari para pemimpin atau orang yang bisa dijadikan contoh dan teladan untuk kita semua. Aamiin

Wallahu a’lamu bishshowab

Akhirul kalam. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh