Pengenalan Gambar CAD bagi Teknik Sipil

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga kita tak pernah bosan-bosan dalam bersyukur kepada ALLAH swt. Aamiin

Semoga salawat juga selalu kita senandungkan kepada Nabi Muhammad saw., sahabat juga kepada para keluarga serta pengikutnya hingga akhir zaman. Aamiin

Bagi kita yang baru memasuki jurusan teknik sipil (pengalaman pribadi, hahahaha), pasti yang dipikirkan adalah “teknik sipil itu pasti berhubungan dengan itungan, itungan dan itungan. rumus, rumus dan rumus”. hehehe. Sebenernya ilmu teknik sipil tak berhenti sampai hasil perhitungan dari rumus-rumus yang sangat rumit. Hasil perhitungan yang kita hitung secara teliti, haruslah dapat di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Dalam pengaplikasiannya kita membutuhkan tenaga lain yang sangat penting yaitu para tukang. Para tukang ini bekerja tidak mendasar pada tulisan2 dan hitungan2 dari para engineer melainkan dari sebuah media komunikasi berupa gambar kerja. Nah, gambar kerja inilah yang menjadi patokan para pekerja melaksanakan suatu proyek.

Auto CAD adalah suatu program yang berfungsi agar dapat membuat gambar dengan cepat dan hemat oleh para drafter. Cepat, dengan Auto CAD dalam menggambar sebuah garis lurus tak perlu menggunakan penggaris sehingga dalam penggambaran akan lebih cepat. Hemat, dalam menggambar pasti akan melakukan kesalahan, dengan auto CAD, sebelum gambar di cetak, gambar dapat di cek dan diperbaiki terlebih dahulu sehingga pengeluaran kertas akan semakin hemat.

Gambar 1. Program Auto CAD

Setelah perhitungan struktur dalam suatu bangunan, penggambaran harus dilakukan. Perhitungan yang banyak rumus harus dituangkan dalam bentuk gambar agar para pekerja dapat mengerti apa yang diinginkan oleh owner.

Sepengetahuan saya selama saya kerja praktek dan bekerja freelance di konsultan. Dalam suatu proyek, gambar itu ada 3 macam yaitu Asplan Drawing, Shop Drawing dan Asbuilt Drawing.

Pertama, Asplan Drawing merupakan gambar yang dibuat oleh konsultan perencana yang disahkan oleh pihak-pihak terkait. Asplan Drawing ini merupakan dasar yang digunakan oleh Kontraktor dalam melaksanakan proyek. Aplan Drawing adalah gambar hasil dari perhitungan oleh para engineer di konsultan perencana. Asplan Drawing ini digunakan oleh owner pada rapat penjelasan (aanwijzing) kepada kontraktor. Melalui gambar ini, para kontraktor bersaing untuk mendapatkan proyek tersebut. Bersaing seperti apa? Yaitu dalam perkiraan RAB, metode pelaksanaan yang digunakan, jumlah tenaga ahli yang digunakan dan lain-lain. Hasil perkiraan para kontraktor inilah yang akan dinilai oleh panitia lelang yang nantinya yang mana hasil utamanya akan diperoleh 1 kontraktor terbaik yang akan melaksanakan proyek tersebut.

Kedua, Shop Drawing merupakan gambar kerja yang dibuat oleh kontraktor dan tetap mengacu pada Asplan Drawing yang berfungsi untuk mempermudah tukang dalam mengerti dan melaksanakan pekerjaan di lapangan.

Ketiga, Asbuilt Drawing merupakan gambar yang sudah dikerjakan oleh kontraktor. Asbuilt Drawing ini dibuat sebagai laporan hasil kerja kontraktor kepada owner yang sudah disahkan oleh pihak-pihak yang mana Asbuilt Drawing ini harus sesuai dengan apa yang sudah dikerjakan dilapangan. Asbuilt Drawing ini wajib ada pada laporan akhir kontraktor dalam penagihan baik perbulan maupun di akhir proyek.

Nah, sekarang kita sudah tahun mengenai gambar proyek. Auto CAD sendiri tidak hanya digunakan untuk teknik sipil, melainkan untuk arsitek, teknik mesin dan kalangan umum lainnya. Oleh karena itu, jika teman2 ingin mempelajari lebih lanjut mengenai CAD teman2 harus mencari guru atau teman yang benar2 sesuai kebutuhan kita. 

Pada dasarnya, untuk dapat bisa menggunakan Auto CAD itu mudah dan sama. Materi yang dipelajari di setiap bidang baik teknik sipil, arsitek, ataupun mesin itu sama. Dasar materi yang digunakan adalah line, polyline, modify, trim dan lain-lain. Namun, hal terpenting dari auto CAD itu adalah bagaimana pemahaman seorang drafter terhadap gambar yang akan dia buat. Jika teknik sipil pastinya gambar yang dibuat haruslah mengenai detail2 struktur bangunan, arsitek mengenai gambar tampak, detail arstitek dan lain-lain. Oleh karena itu, Jika hanya bisa menggunakan perintah-perintah di dalam autoCAD jangan dulu puas, kita harus belajar kembali sejauh mana auto CAD diaplikasikan dalam bidang kita khususnya teknik sipil.

Untuk dapat menjadi seorang drafter itu tidak mudah. Selain bisa menggambar dengan cepat, seorang drafter juga harus dapat menggambar dengan tepat. Tepat disini adalah sesuai dengan standar yang sering digunakan.

Pasti dalam hati teman-teman bertanya “Caranya seperti apa? Kan dikampus kita cuma diajari ngitung, ngitung dan ngitung”. Gak begitu sulit caranya. Teman-teman pasti pernah atau akan melakukan Kerja Praktek kan? Nah, dari KP (Kerja Praktek) itu teman-teman bisa memanfaatkannya. Ambil dan mintalah sebanyak-banyaknya data yang bisa diminta salah satunya gambar. Setelah diperoleh, teman-teman bisa pelajari gambar yang sudah ada. Coba di baca gambar yang sudah diperoleh, setelah gambar itu di baca, kemudian dibayangkan dan coba cocokkan dengan dilapangan. Seorang engineer harus bisa membaca dan mengerti mengenai gambar kerja.

Nah, kalo yang dibayangkan oleh teman-teman itu sesuai dengan yang dilapangan berarti dalam tahap ini teman-teman sudah bisa dan mengerti dengan gambar yang ada. Jangan puas sampai situ. Yuk, lanjut ke tahap menggambar. Ambil dan pelajari gambarnya, kemudian gambar ulang. Gambar ulang di sini tidak hanya sekedar menggambar yang sudah ada melainkan gambar ulang sambil dipelajari dan dipahami mengapa digambar seperti itu. Kenapa harus demikian? Misalkan, penggambaraan As bangunan pun tidak sembarangan. Jika kita buat asal, maka gambar akan terlihat jelek dan tidak mudah dipahami oleh orang. Jika ada suatu hal yang tidak teman-teman mengerti jangan malu atau takut untuk bertanya kepada yang lebih menguasai.

Berikut di bawah ini saya lampirkan beberapa plot hasil gambar CAD untuk beberapa detail gambar. Gambar hasil plot dibawah ini merupakan hasil gambar penulis sendiri. InsyaALLAH jika hasil karya orang lain, saya akan selalu cantumkan sumbernya. Aamiin. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian.

denah 2

denah 3denah 4denah 5denah 6 

denah 8 denah 9 denah 10 denah

Gambar tersebut hanyalah berupa screen shot dengan format jpg. Jika teman-teman berminat untuk gambar dalam format dwg bisa hubungi saya di email yang tertera di blog ini. Insya ALLAH gambar akan segera saya kirimkan.

Semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat bagi teman2 sekalian dan khususnya bagi saya sendiri. Mohon maaf atas segala kekurangan kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan agar tulisan ini menjadi sangat bermanfaat.

Barakallahu minna wa minkum

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kerja Praktek di Proyek Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada ALLAH swt, yang telah memberikan kita nikmat sehat sehingga kita masih bisa tetap menuntut ilmu yang ALLAH turunkan melalui segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Salawat dan salam semoga selalu kita senandungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah berjuang untuk memperbaiki ahlak manusia, kepada sahabat, keluarga juga para pengikutnya hingga akhir zaman.

Di tengah krisis moral yang dihadapi negara Indonesia, kita selaku warga negara harus tetap optimis dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik demi mencapai Indonesia yang adil dan sejahtera. Belajar adalah salah satu cara yang saat ini dirasa cukup bagi mahasiswa untuk berjuang dalam menegakkan keadilan dan moral di negara ini. Dengan terus belajar, saya yakin insyaALLAH jika suatu saat salah satu dari kita (mahasiswa) menjadi orang yang paling berpengaruh di negara ini (wakil rakyat), akan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini dengan apa yang mereka pelajari semasa menjadi mahasiswa. Semoga kita sebagai penerus bangsa tidak menjadi orang yang haus akan kekuasaan, uang dan wanita. Aamiin.

Dalam kesempatan kali ini, saya hendak menuturkan hasil kerja praktek (KP) saya selama semester 6 di Proyek Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M. Semoga dengan penyampaian ini dapat bermanfaat bagi teman2 sekelian, dan semoga bisa berkah untuk kita semua. Jika apa yang disampaikan dalam kalimat kurang berkenan atau tidak sesuai dengan teori yang ada, insyaALLAH saya siap menerima kritik dan saran dari teman-teman sekalian

1. Latar Belakang

Semakin besar perkembangan teknologi di wilayah perkotan semakin membuat masyarakat memiliki jiwa persaingan yang kuat untuk menjadi yang terdepan di wilayah tersebut. Jika hal itu tak terkendali akan mengakibatkan jumlah penduduk yang melonjak dan dapat mengakibatkan kepadatan penduduk. Hal ini yang sedang dirasakan oleh warga Jakarta.

Jumlah penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya di Jakarta sangat  menuntut pemerintah Jakarta untuk terus menemukan solusi demi solusi agar warga Jakarta dapat tinggal dengan aman dan nyaman baik dalam pembangunan maupun sosial.

Salah satu masalah besar yang dihadapi warga Jakarta adalah kemacetan. Meningkatnya jumlah penduduk inilah yang menyebabkan kemacetan Jakarta semakin parah. Hal inilah yang menuntut pemerintah untuk membuat suatu solusi untuk mengurai kemacetan yang terjadi. Salah satu solusi yang diusulkan adalah pembangunan sarana dan prasana transportasi yang mana hal ini tidak lepas dari peranan seorang insinyur teknik sipil.

Proses yang dibutuhkan oleh seorang insinyur sipil untuk dapat membangun dan menciptakan bangunan yang kuat, aman, dan nyaman bukanlah merupakan sebuah proses singkat dan instan, melainkan harus melalui proses belajar yang panjang dan matang untuk dapat memahami ilmu-ilmu yang dibutuhkannya dalam proses konstruksi.

Proses belajar ini dilakukan baik dengan mempelajari dan memahami ilmu-ilmu dari dosen di dalam kelas, kegiatan-kegiatan praktikum di laboratorium, ataupun lebih jauh lagi dengan terjun langsung ke lapangan melalui kegiatan Kerja Praktek di proyek pembangunan.

Kegiatan Kerja Praktek di proyek pembangunan dalam kurikulum jurusan teknik sipil adalah salah satu kegiatan wajib yang harus dilakukan seluruh mahasiswa untuk memenuhi tahapan dalam jenjang pendidikannya di bangku perkuliahan. Kerja Praktek ini memiliki peranan yang penting untuk seorang calon insinyur karena ilmu-ilmu yang selama ini hanya dipelajari di dalam kelas tentu dapat dilihat aplikasi kegunaannya dalam kehidupan nyata yaitu dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan ataupun bahkan dengan adanya kerja praktek ini tentu dapat ditarik ilmu-ilmu pelaksanaan yang tidak bisa didapatkan di bangku kuliah.

Melalui kegiatan ini pula mahasiswa memiliki wawasan yang luas terhadap perkembangan pembangunan di bidang konstruksi serta dapat melihat dan mempelajari kebijakan dan cara kontraktor utama sebagai pembangun dalam menghadapi permasalahan yang tidak timbul secara terduga. Sehingga pada akhirnya setelah selesai menyelesaikan pendidikannya di bangku perkuliahan, lulus, dan mendapat gelar, mahasiswa tidak hanya memiliki teori literatur saja namun telah memiliki pengalaman dan gambaran tentang kehidupan pembangunan dan pelaksanaan kegiatan di proyek yang dapat dijadikan bekal untuk kedepannya.

Laporan Kerja Praktek ini disusun berdasarkan data serta pengamatan langsung selama 40 hari yang dilakukan pada PT. PP (Persero), Tbk. selaku kontraktor utama dalam proyek Pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M.

2. Latar Belakang Proyek

Jakarta kini telah menginjak usianya hampir mencapai setengah abad sudah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Seiring dengan pesatnya perkembangan tersebut, Jakarta masih harus berpacu untuk mengatasi berbagai problematika, khususnya terkait dengan lingkungan dan transportasi.

Di bidang transportasi, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor setiap tahun sangat pesat. Dari pertumbuhan kendaraan bermotor ini, penambahan panjang dan lebar jalan ini hanya mencapai 0,01 %. Hal ini sangat tidak seimbang dengan total pertumbuhan kendaraan bermotor yang mencapai 9,9 juta unit pada tahun 2009 sedangkan pada tahun 2007 hanya mencapai 5,2  juta kendaraan bermotor. Menyikapi hal ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah strategis, yakni membangun sistem transportasi sebagai salah satu program unggulan (dedicated programme). (Majalah Techno Konstrusi, 2010)

Dengan kondisi demikian perlu strategi penanganan yang tepat. Strategi dual approach dan triple approach cukup tepat yang direncanakan oleh Pemprov DKI Jakarta, yaitu mengarah pada penambahan sistem jaringan jalan seperti Pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M.

Dalam rangka menunjukan keseriusan dari Pemprov DKI Jakarta, maka ditunjuk Dinas Pekerjaan Umum sebagai pengurus sistem transportasi di Indonesia untuk memilih pelaksana-pelaksana terbaik yaitu PT. Waskita Karya, PT. Hutama Karya – PT. Nindya Karya, PT. Yasa Patria Perkasa,  PT. Modern-PT. Lampiri, KSO dan PT. PP (Persero), Tbk.

3. Maksud dan Tujuan Proyek

Maksud dan tujuan dibangunya Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M adalah sebagai salah satu cara Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi masalah kemacetan dan kepadatan kendaraan yang terjadi di Jakarta agar warga Jakarta serta para pengguna jasa transportasi lainnya dapat melakukan perjalanan yang aman serta nyaman.

4. Data Umum Proyek

Proyek Pembangunan Jalan Layang Non Tol Pangeran Antasari – Blok M dikerjakan oleh lima kontraktor utama. Berikut panjang jalan layang dikerjakan oleh kelima kontraktor.

Tabel 2.1 Kontraktor Proyek JLNT P. Antasari – Blok M

No

Kontraktor

Panjang

yang Ditangani

Paket

1

PT. PP (Persero), Tbk

1170 m

Pasar Cipete

2

PT. Waskita

803 m

Cipete Utara

3

PT. Hutama Karya & Nidya Karya

926 m

Taman Brawijaya

4

PT. Yasa Patria Perkasa

1062 m

Prapanca

5

PT. Modern – Lampiri, KSO

904 m

Lapangan Mabak

  1. Nama Proyek                              :      Pembangunan Jalan Layang Non TolAntasari – Blok M (Stage 1 : PasarInpresCipete – LapanganMabak Blok M) Paket Pasar Cinere (Multy Years)
  2. Surat Perjanjian Jasa                 :      Nomor 10037/-1.792
  3. Lokasi Proyek                             :      Pasar Cipete, Jalan P. Antasari
  4. Pemilik Proyek                           :      Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jatakarta dan Dinas Pekerjaan Umum
  5. Konsultan Struktur                    :      PT. Perentjana Djaja
  6. Konsultan Supervisi                   :      PT. Virama Karya

PT. Karya Cipta Utama Mandiri

  1. Kontraktor Utama                     :      PT. PP (Persero), Tbk.
  2. Sub Kontraktor Struktur
    1. Beton Ready Mix                 :      PT. Adimix Precast

PT. Pionir Beton

  1. b.      Stressing                            :      PT. Dinamical Structural System
  2. c.       Tim Erection                    :      PT. Kharisma Karya Kencana
  3. Sumber Dana                              :      APBD Provinsi DKI Jakarta
  4. Sistem Pelelangan                       :      Pelelangan Umum
  5. Sistem Kontrak                           :      Multy Years
  6. Waktu Pelaksanaan                     :      22 November 2010–12 Oktober 2012
  7. Jenis Pekerjaan                            :      Struktur, Mekanical dan Elektrical
  8. Kuantitas Pekerjaan
    1. Deskripsi Proyek                   :      Jembatan dengan Panjang 1.170 m dan Lebar 8,75 m x 2
    2. Jenis Pondasi                              :      Bore Pile
    3. Jenis Struktur  :           Struktur Beton Prategang

5. Data Teknis Proyek

  1. Panjang Jembatan                                     : 1.170 m
  2. Konstruksi Bangunan

Pondasi                                                 : Bore Pile

Pier                                                       : Beton Bertulang

Pier Head                                             : Beton Prategang

Girder                                                   : Box Girder

Pelat Lantai                                          : Aspal

Railing Jembatan                                  : Beton Bertulang

  1. Fungsi Bangunan
    1. Pondasi                : Sebagai penyalur beban terakhir pada struktur ke tanah agar bangunan tidak terjadi penurunan yang tidak wajar ataupun guling.
    2. Pile Cap               : Digunakan agar beban yang tersalur dari pier dapat menyebar dengan merata kepondasi (khususnya pondasi kelompok).
    3. Pier                      : Sebagai penyalur beban dari pier head ke pile cap yang bertujuan agar beban yang tersalur dari pier head danbox girder dapat diarahkan dengan baik.
      1. Pier Head            : Sebagai dudukan box girder  serta sebagai penyalur beban lalu lintas dan box girder ke pier.
      2. Girder                  :  Sebagai balok dengan panjang bentang tertentu  yang berfungsi sebagai penyalur utama dari beban lalu lintas yang nantinya akan di salurkan ke pondasi
      3. Parapet                 : Sebagai jagaan di sisi-sisi jembatan.
      4. Railing                 : Sebagai jagaan di sisi-sisi jembatan.
      5. Lantai Jembatan  : Sebagai perkerasan lentur pada jalan.
  2. Pondasi
    1. Jenis Pondasi                          :        Bore Pile
    2. Kedalaman Pondasi               :        26 – 40 meter
    3. Diameter Pondasi                   :        1,5 m
    4. f’c                                           :        29 MPa
    5. Tebal pile cap                         :        1,75 m – 2,75 m
  3. Struktur Bawah
    1. Pondasi                                          :    Mutu Beton K-350
    2. Pile Cap                                        :    Mutu Beton K-350
  4. Struktur Atas
    1. Pier                                                :    Mutu Beton K-600
    2. Pier Head                                      :    Mutu Beton K-600
    3. Box Girder                                    :    Mutu Beton K-600 ( Precast )
    4. Parapet dan Railing                       :    Mutu Beton K-350
  5. Tendon                                                 :    7 Wire-Strand mutu tinggi G-270
  6. Baja Tulangan                                      :    D > 13 mm BJTD 40

D < 13 mm BJTP 24

6. Data Administrasi Proyek

  1. Tipe Kontrak                                 :     Unit Price Contract
  2. Sistem Pembayaran                       :     Unit Price Contract.
  3. Nilai Proyek                                  :     Rp. 325.499.285.000,00
  4. Nilai Kontrak (Penawaran)           :     Rp. 309.347.000.000,00
  5. Uang Muka                 :           5% dari nilai proyek

7. Definisi Managemen Proyek

Pelaksanaan pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete adalah suatu pekerjaan yang mengharuskan pemahaman dalam perencanaan proyek manajemen, manajemen harga, manajemen waktu, manajemen kualitas, administrasi kontrak, manajemen keselamatan, dan praktek profesional agar terciptanya hasil pekerjaan yang baik dan sesuai dengan harapan.

Manajemen proyek itu sendiri memiliki definisi pengelolaan perencanaan (rencana kerja), pelaksanaan, pengendalian dan koordinasi suatu proyek dari awal pelaksanaan pekerjaan sampai selesainya proyek secara efektif dan efisien, untuk menjamin bahwa proyek dilaksanakan tepat waktu, tepat biaya, dan tepat mutu (Ervianto, 2003).

Dalam proses pelaksanaan sebuah proyek ada 3 hal yang sangat berkaitan erat dan mempengaruhi kualitas suatu pengerjaan proyek (triple constrainst), yakni jadwal, mutu dan dan anggaran biaya proyek. Dibutuhkan pengaturan khusus yang tersusun secara sistematis dan terkonsep dengan baik agar ketiga aspek tersebut dapat terpenuhi sehingga diperoleh hasil yang baik yang sesuai perencanaan proyek. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen proyek adalah:

  1. Perencanaan (planning)

Setiap proyek selalu dimulai dengan proses perencanaan. Dalam tahap perencanaan biasanya diawali dengan brainstorming dalam team. Dibutuhkan pengalaman-pengalaman yang cukup dan analisa suatu masalah yang matang dalam proses perencanaan. Sasaran perencanaan yang harus direncanakan diantaranya: perencanaan biaya, perencanaan rnutu, perencanaan waktu dan perencanaan kearnanan kerja. Dalarn perencanaannya, proyek Pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M Paket Pasar Cipete  ini akan rnernakan waktu pelaksanaan konstruksi struktur selarna dua tahun (2010 – 2012). Penjadwalan awal (Master Time Schedule) pada proyek ini dibuat dalam bentuk kurva S yang dapat dilihat pada larnpiran dari laporan ini.

  1. Penjadwalan (scheduling)

Merupakan implementasi dari perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek yang meliputi sumber daya (biaya, tenaga kerja, peralatan, material), durasi, dan progress waktu untuk menyelesaikan proyek.Penjadwalan proyek mengikuti perkembangan proyek dengan berbagai permasalahannya.

Proses monitoring dan updating dalam suatu proyek harus selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis agar sesuai dengan tujuan proyek.Ada beberapa metode untuk mengelola penjadwalan proyek, yaitu kurva S (hanumm curve), barchart, penjadwalan linear (diagram vektor), network planning waktu dan durasi kegiatan.Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana semula, maka dilakukan evaluasi dan tindakan koreksi.

Pada lampiran dicantumkan “s” curve pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Layang Non Tol Antasari – Blok M, dimana keterangan dalam “s” curve itu adalah sebagai berikut:

  1. Sisi atas menunjukkan waktu pelaksanaan pekerjaan.
  2. Sisi bawah menunjukkan total rencana dan total pelaksanaan dalam persentase.2
  3. Sisi kanan menunjukkan pembagian pekerjaan dalam persentase.
  4. Sisi kiri menunjukkan nilai bobot pekerjaan dalam persentase.
  5. Pengarahan (Directing)

Pengarahan adalah kegiatan mobilisasi sumber-sumber daya yang dimiliki agar dapat bergerak secara satu kesatuan sesuai rencana yang telah dibuat, termasuk didalamnya melakukan motivasi dan koordinasi terhadap seluruh staffnya.

  1. Pelaksanaan (Actuating)

Mengkoordinasi pelaksanaan proyek agar sesuai dengan perencanaan (Planning), spesifikasi teknik dan gambar proyek yang telah disepakati dalam tender.

  1. Pengendalian (Controlling)

Pengendalian merupakan tindakan memonitor, memantau dengan cara mengukur kualitas penampilan dan penganalisaan serta pengevaluasian penampilan yang diikuti dengan tindakan perbaikan yang harus diambil terhadap penyimpangan yang terjadi (diluar batas toleransi). Dalam pengendalian ini, mencakup kegiatan pengawasan yang dilakukan secara kontinu dari waktu ke waktu guna mendapatkan keyakinan bahwa pelaksanaan kegiatan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan guna mencapai hasil yang diinginkan. Tugas tindakan mengontrol bukan berarti hanya menyalahkan orang lain, tetapi juga mencari dan menentukan alternatif terbaik dalam tindakan pencegahan (preventive action) dan perbaikan atas ketidaksesuaian yang terjadi.

Tindakan tersebut meliputi, pengukuran kualitas hasil, membandingkan hasil terhadap kualitas, mengevaluasi penyimpangan yang terjadi, memberikan saran-saran perbaikan dan menyusun laporan kegiatan.

  1. Evaluasi (Directing)

Evaluasi adalah spesifikasi pekerjaan, membandingkan realisasi dengan rencana, pengambilan langkah-langkah yang diperlukan dan jika perlu diadakan perencanaan ulang (replanning).

8. Struktur Organisasi Proyek

struktur

Gambar 1. Struktur Organisasi Proyek

9. Pengendalian Proyek (Mutu, Waktu dan Biaya)

Pengawasan dan pengendalian dalam suatu proyek konstruksi merupakan sesuatu yang penting dilaksanakan secara ketat untuk menghindari hal-hal yang merugikan terutama bila berada dalam kondisi rentang waktu yang sempit karena pada saat-saat itulah sering terjadi kelalaian untuk mutu yang harus dicapai.

Umumnya pengawasan proyek bersifat preventif sejauh mana peningkatan pekerjaan dan memeriksa apakah pekerjaan tersebut sudah memenuhi spesifikasi gambar rencana dan tujuan yang telah dibuat.Sedangkan pengendalian perlu dilakukan sebagai tindak lanjut dari pengawasan untuk mengontrol kualitas pekerjaan agar sesuai dengan rencana.

Tujuan yang ingin dicapai dari pengendalian ini adalah:

  1. Agar memperoleh bangunan yang sesuai dengan standar mutu, serta memperhatikan ketentuan dan prosedur dari instansi yang berwenang dalam masalah pengendalian mutu.
  2. Waktu pelaksanaan proyek sesuai dengan time schedule sehingga pihak pemilik proyek maupun pelaksana tidak merasa dirugikan karena adanya keterlambatan (pengendalian waktu).
  3. Peningkatan efisien pekerjaan sehingga dapat meminimalkan pengeluaran keuangan proyek (pengendalian biaya).

Maka untuk terciptanya itu semua diperlukan beberapa pertimbangan agar mendapatkan rencana kerja yang baik dan teliti, yaitu sebagai berikut:

  1. Metode pelaksanaan pekerjaan.
  2. Dana yang tersedia.
  3. Bahan bangunan/material yang tersedia.
  4. Peralatan yang digunakan.
  5. Waktu yang telah ditentukan.
  6. Tenaga kerja yang tersedia.

9.a Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu/kualitas (quality control) merupakan salah satu pelaksanaan pengendalian proyek, yaitu kualitas hasil pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Pengendalian mutu dilaksanakan secara terus-menerus mulai dari tahapan pra pelaksanaan, pelaksanaan, sampai pasca pelaksanaan. Pada pelaksanaan pekerjaan proyek, bahan-bahan bangunan mutlak berpengaruh terhadap kualitas produk fisik proyek. Untuk itu bahan-bahan yang digunakan haruslah memenuhi spesifikasi, karena akan berpengaruh terhadap kekuatan dan daya tahan konstruksi. Hal lain yang harus diperhatikan adalah tempat dan cara penyimpanan, sehingga tidak merusak kualitas bahan itu sendiri.

Dalam mencapai kualitas bahan yang baik maka digunakan standar mutu dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi yang meliputi:

  1. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI – 1971)
  2. Peraturan Semen Portland Indonesia (SNI – 08)
  3. Standar Pembebanan untuk Jembatan (RSNI T-02-2005)
  4. Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SNI-12-2004)
  5. Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan mengenai Persyaratan Tahan Gempa (BMS 1992)
  6. ASTM (American Society for Testing and Material)

Pada umumnya penilaian material meliputi segi kualitas material mudah tidaknya mendapatkan material tersebut, harga material.

 a. Mutu Betom

Pelaksanaan pengendalian mutu pekerjaan beton dilakukan dengan semua bahan beton yang akan dipergunakan. Bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi persyaratan SNI 03-2847-2002. Beton yang digunakan adalah beton ready mix dengan mutu beton K-350 utnuk beton bore pile, parapet, railing dan pile cap, K-600 untuk beton pier, hammer head dan box girder.

Untuk setiap pengiriman beton ready mix dipilih secara acak dari satu batch yang akan diambil benda uji silinder namun seharusnya pada proyek JLNT ini diambil sampel pada setiap pengiriman 10 m3. Dengan kesepakan dari pihak monitoring DPU, konsultan supervisi dan kontraktor diambil sample secara acak setiap 10 molen yang datang.

b. Mutu Beton Box Girder

Box girder adalah bahan utama dalam pembangunan JLNT ini.Ada sesuatu yang istimewa dari box girder dibandingkan dengan bagian lain yang terbuat dari beton. Hal istimewa tersebut adalah dari pembuatannya yaitu dibuat dimana batching plan berada dan dipasang pada lokasi proyek setelah umur beton mencapai 28 hari. Pada proyek JLNT ini menggunakan beton precast PT. Adimix Precast yang ada di Cibitung, Cikarang.

box girder

Gambar 3.2 Box Girder

Untuk menjaga mutu dan ukuran dari box girder sesuai yang direncanakan dari pihak kontraktor mengirimkan tim yang akan tinggal di tempat pembuatan box girder untuk mengawasi pengecoran. Selain tim tersebut, kontraktor juga mengirimkan tim bersama konsultan supervisi untuk melakukan inspeksi terhadap box girder yang sudah siap pasang. Hal ini dilakukan agar jika ada mutu dan ukuran yang  menyimpang dapat segera diatasi sehingga tidak akan menghambat pekerjaan di lapangan.

Untuk satu buah box girder ini memerlukan sebanyak 18 m3 dengan mutu K-600 yang mana dalam melakukan pengecoran tidak diperkenankan tertunda. Jadi, dalam proses ini, 5 buah molen sudah disiapkan didekatkan box yang akan dicor yang masing-masing terdiri dari 4 m3  beton. Jika dalam pengecoran terputus atau tertunda yang akan terjadi adalah perbedaan warna sehingga tidak estetik dan akan terlihat adanya keretakan yang disebabkan adanya rongga akibat bekas coran yang lama dengan yang baru.

c. Mutu Air

Pengendalian terhadap air yang digunakan haruslah bebas dari bahan organik, garam, zat asam, ataupun minyak dan kotoran-kotoran lainnya dalam jumlah cukup besar yang dapat mengurangi ketahanan beton dan baja tulangan. Sedangkan apabila terdapat keraguan terhadap air yang digunakan dapat dilakukan pengetesan di laboratorium untuk mendapatkan keterangan tentang kelayakan air.

Dalam hal pengendalian material agar terjaga kelancaran pelaksanaan proyek dan mengurangi sampah yang dihasilkan (waste) maka diperlukan pula beberapa kebijakan oleh material manager yang meliputi:

  1. Menggunakan material baru sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat Struktur dan tidak memperbolehkan pekerja untuk membawa serta memiliki material bekas untuk mencegah penyalahgunaan bahan.
  2. Menyetujui dan memesan material hanya sebesar kebutuhan yang dibutuhkan dalam kurun waktu terbatas.
  3. Material sisa yang masih berkualitas baik dan sekiranya masih dapat digunakan untuk keperluan pelengkap disimpan dan dicatat secara khusus untuk menghindari terjadinya kehilangan.

d. Pembesian

Besi beton yang dipakai adalah besi beton ulir (deformamed bar) untuk D>13 dengan tegangan leleh 4000 kg/cm2 (BJTD-40) dan besi polos (plain bar) untuk D<13 dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2 (BJTP-24).

pembesian

Gambar 3.3 Pembesian Parapet dan Railing

e. Bekisting

Bekisting yang digunakan adalah terbuat dari pelat phenol film yang mana salah satu bidangnya mempunyai sifat yang licin. Phenol film ini memiliki keunggulan dibandingkan bekisting yang biasa, salah satunya yaitu bisa digunakan beberapa kali sehingga dapat menghemat juga berpartisipasi dalam program bangunan ramah lingkungan (green building).

bekisting

Gambar 3.4 Bekisting

9.b Pengendalian Waktu Pelaksanaan

Pengendalian waktu pada suatu proyek pada umumnya dilakukan dengan sistem penjadwalan yaitu pembuatan time schedule. Time Schedule adalah metode pengendalian proyek yang merupakan proses pemikiran yang tangguh dalam mengatasi persoalan pelaksanaan pekerjaan berdasarkan teori dan pengalaman. Pembuatan Time Schedule dapat menentukan saat mulai pelaksanaan dan berakhirnya suatu pekerjaan, memperkirakan jumlah dan jenis material yang dibutuhkan maupun yang tersedia di proyek. Penyusunan Time Schedule membutuhkan data tentang:

  1. Waktu yang tersedia, meliputi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masing-masing pekerjaan proyek secara keseluruhan.
  2. Pertimbangan tenaga kerja yang tersedia/dibutuhkan berdasarkan keterampilan, keahlian buruh serta harga bahan dan upah.

Keadaan lingkungan (lokasi proyek) sebelum proyek tersebut dilaksanakan.

  1. Gambar-gambar bestek adalah gambar arsitek, struktural, mekanikal, elektrikal, plumbing, penangkal petir dan pekerjaan halaman.
  2. Peraturan dan persyaratan bestek.
  3. Kondisi, kapasitas alat kerja yang dibutuhkan dalam pelaksanaan suatu proyek dari segi mutu dan kualitas.

Tujuan dari pembuatan Time Schedule adalah:

  1. Mengatur pekerjaan secara teliti.
  2. Memudahkan penentuan pelaksanaan pekerjaan pada waktunya.
  3. Dapat menentukan kegiatan kritis karena akan mempengaruhi cepat atau lambatnya penyelesaian pekerjaan suatu proyek.

Pembuatan Time Schedule dapat memudahkan pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan. Pembuatan Time Schedule sangat membutuhkan kemampuan berfikir secara logis, pengetahuan tentang teknik sipil, pengalaman kerja sehingga mendapat hasil maksimal. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam menyusun pembuatan Time Schedule diantaranya adalah:

  1. Time Schedule harus dapat dipertanggungjawabkan secara teknis.
  2. Disusun berdasarkan forecast yang akurat.
  3. Sesuai dengan sumber daya yang tersedia.
  4. Fleksibel terhadap perubahan-perubahan, misalnya perubahan spesifikasi proyek.
  5. Cukup mendetail untuk dipakai sebagai alat pengukur progress proyek.

Pembuatan Time Schedule sangat mempengaruhi kondisi situasi proyek sehingga pelaksanaan suatu proyek dapat dikontrol, tidak menyimpang dari ketentuan dan dapat dipertanggungjawabkan.

9.c  Pengendalian Biaya

Yang dimaksud dengan pengendalian biaya proyek adalah semua upaya atau usaha yang dilakukan oleh seluruh staf proyek (kepala proyek dan staf), agar biaya pelaksanaan proyek menjadi wajar, murah, dan  efisien sesuai dengan rencana atau hasil evaluasi yang telah dilakukan. Pengendalian biaya pelaksanaan proyek terkait erat dan sangat dipengaruhi oleh :

  1. Pengendalian waktu pelaksanaan proyek (efek dari penambahan biaya tidak langsung).
  2. Pengendalian mutu dan hasil pelaksanaan proyek (efek dari pekerjaan ulang,  finishing, pembongkaran, dan lain-lain yang harus menambah biaya lagi, yaitu biaya langsung maupun tidak langsung).
  3. Pengendalian sistem manajemen operasional proyek yang bersangkutan, yang kurang baik  atau tidak konsisten dalam pelaksanaannya atau penerapannya (efek penambahan biaya karena inefektivitas dari cara dan sistem kerja serta efisiensi realitas biaya pekerjaan dari yang seharusnya direncakanan).

Pengendalian biaya dilakukan secara rutin selama pelaksanaan proyek, dan hasilnya diwujudkan dalam bentuk laporan yang berisikan rincian pemasukan dan pengeluaran operasional dan non operasional. Sistem pengupahan pada joint operation  dibayar dengan empat macam cara, yaitu sebagai berikut :

  1. Upah Bulanan

Upah bulanan yaitu upah yang dibayarkan setiap bulan kepada tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Perbedaannya adalah jika tenaga kerja tetap (staff) selain upah bulanan tidak akan ada potongan gaji bila tidak masuk kerja dengansuatu alasan.

  1. Upah Mingguan

Upah mingguan yaitu upah yang dibayarkan berdasarkan volume pekerjaan yang dicapai. Hasil pekerjaan diperiksa setiap hari Sabtu. Sistem pembayarannya adalah kontraktor membayar kepada bos borong/mandor berdasarkan volume pekerjaan yang telah diselesaikan atau sesuai progress/kemajuan per 15 hari, lalu bos borong/mandor yang akan mengatur pembayarannya kepada para pekerja.

  1. Upah Harian

Upah harian yaitu upah yang diperhitungkan secara harian tergantung pekerjaan (tukang, K3). Upah harian ini dibayar seminggu sekali yaitu setiap hari Sabtu.Pembayaran upah dihitung dari jumlah hadir, sedangkan besar atau kecilnya upah per harinya tergantung keterampilan dan prestasi kerja yang bersangkutan.

  1. Upah Lembur

Upah lembur yaitu upah yang dibayarkan untuk kerja diluar jam kerja biasa.Besarnya disesuaikan dengan perjanjian yang telah disetujui oleh pekerja sebelum kerja lembur dilaksanakan.

9.d Pengendalian Keselamatan Kerja

K3 sangat penting dalam pelaksanaan suatu proyek. Semakin kecil tingkat kecelakaan dalam suatu proyek, maka nama baik suatu perusahaan kontraktor akan semakin baik. Oleh karena itu, di PT. PP (Persero), Tbk ini, K3 sangat diutamakan.Salah satu kegiatannya adalah selalu melakukan pendekatan psikis kepada para pekerja mengenai pentingnya K3 setiap minggunya. Dengan hal ini, diharapkan para pekerja menyadari akan dibutuhkannya peralatan K3, karena tanpa kesadaran dari pekerja, tim safety tidak ada gunanya.

Pada penerapan program K3 pada proyek JLNT Antasari-Blok M terdiri dari beberapa point utama, yaitu:

1)                  SHE Introduction     :    yaitu pengarahan K3 kepada pekerja baru

2)                 SHE Talk                  :    yaitu pengarahan K3 kepada pekerja setiap hari jumat

3)                 Inspeksi                    :    yaitu monitoring pelaksanaan K3 di lapangan

4)                 Training K3              :    pelatihan kepada pekerja, sub kontraktor tentang K3

  K3

Gambar 3.5 SHE Introduction  (kiri), SHE Talk (tengah),

Rambu-rambu K3 (kanan)


Demikian Penuturan singkat dari hasil laporan Kerja Praktek saya. Mendapatkan laporan yang lengkap hingga ke masalah khusus bisa download file laporannya di sini. Penulisan di blog ini tidak saya lengkapi karena mungkin akan kurang menarik jika saya tuliskan keseluruhannya, Tapi jika saya tampilkan laporan aslinya semoga dapat menjadi lebih menarik untuk membacanya. Aamiin

download file

Atas segala kekurangan dan kesalahan baik tutur kata maupun penulisan, saya mengucapkan mohon maaf dan terimakasih.

Barakallah

Assalamu’alaikum

Perencanaan Gedung Tahan Gempa dengan ETABS

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum wr. wb

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada ALLAH swt yang telah memberikan kesempatan kita untuk bersilaturahmi melalui tulisan ini. Solawat dan salam semoga selalu dicurahkan kepada junjungan kita yaitu Nabi Muhammad saw., keluarga , sahabat juga para pengikutnya hingga akhir zaman.

Salam kenal untuk semuanya, tak kenal maka tak sayang. Nama saya Wahyu Septiadi. Saya mahasiswa teknik sipil tingkat akhir Universitas Gunadarma. Saya senang diberi ide oleh ALLAH untuk bisa menulis di blog ini. Untuk posting pertama ini saya akan membahas bagaimana cara merencanakan gedung tahan gempa dengan ETABS. Mungkin tulisan ini kurang bermanfaat bagi para ahli teknik sipil yang sudah berpengalaman, tapi semoga sedikit ilmu dari tulisan ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang baru atau sedang mengenal jurusan teknik sipil di universitas masing-masing. Namun, selain untuk share ilmu yang telah saya dapat, saya pun akan sangat senang jika ada para senior Sipil yang memberikan saran dan ilmu baru bagi saya. Karena saran dari para senior dan rekanr-rekan sekalian memberikan manfaat yang besar bagi saya, maupun orang lain yang membacanya.

Agar tidak membosankan mari kita mulai saja ya, hehehehe

Latar Belakang

Wilayah Indonesia adalah wilayah dengan puluhan ribu pulau yang mana Indonesia juga terletak pada wilayah yang rawan gempa. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bencana alam yang di akibatkan oleh gempa seperti, gempa dan tsunami Aceh, gempa di Nias, Gempa di daerah selatan Jawa Barat, dll.

Daerah yang rawan gempa, membuat warga sedikit ketakutan jika harus tinggal di suatu daerah yang rawan gempa. Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, para ahli telah memberikan ilmu mereka mengenai perencanaan gedung tahan gempa. Ilmu ini diperlajari oleh para civil engineer di Indonesia. Oleh karena itu, untuk para mahasiswa harus tahu bagaimana cara merencanakan gedung tahan gempa,

Image

Gambar 1. Kerusakan Gedung Akibat Gempa

Dalam merencanakan gedung tahan gempa, yang harus dikuasai oleh mahasiswa teknik sipil adalah bagaimana cara merrekayasa struktur gedung yang akan direncanakan yang disebut mekanika teknik. Jika mahasiswa sudah memahami Mekanika Teknik 1 s.d 4, Insya ALLAH untuk mempelajari perencanaan Gedung tahan Gempa pasti mudah. Aamiin

Perencanaan Gedung

Dalam perencanaan gedung di Indonesia di atur oleh Standar Nasional Indonesia. Oleh karena itu, dalam perencanaan kita harus berpacu pada standar tersebut. Dalam perencanaan gedung tahan gempa khusus biasanya ada 3 SNI yang kita gunakan.

  1. SNI 03-1726-2002-STANDAR PERENCANAAN KETAHANAN GEMPA
  2. SNI-03-2847-2002 Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
  3. PPIUG 1983 untuk Peraturan Pembebanan

Ada beberapa tahap dalam perencanaan gedung tahan gempa, tahap tersebut antara lain:

  1. Perencanaan Awal atau Preliminary Design
  2. Analisis Gempa
  3. Perencanaan Elemen Struktur dan Pendetailan
  4. Membuat Gambar Perencanaan atau Asplan Drawing

Namun, pada kesempatan kali ini, saya hanya akan membahas pada point 1 dan 2. Berikut penuturannya.

Data Perencanaan

Data perencanaan merupakan hal yang penting untuk dapat merencanakan suatu struktur bangunan. Data perencanaan ini bisa diperoleh dari Uji laboratorium, standar mutu bahan maupun lain-lainnya. Untuk data perencanaan dan prelimary design dapat klik download.

Setelah data perencanaan dan perencanaan awal sudah di download. makan selanjutnya adalah perencanaan gedung terhadap perkiraan gaya gempa yang akan terjadi. Untuk memahami perencanaan gempa ini, teman-teman sekalian harus mengetahui fungsi dari perencanaan ini terlebih dahulu.

Inti dari perencanaan terhadap gaya gempa adalah menemukan atau memperkirakan kondisi layan dan ulimit pada suatu struktur gedung tahan gempa. Kondisi layan dan ultimit ini adalah berupa batas simpangan horizontal yang mampu dipikul struktur gedung.

Batas Layan ditentukan berdasarkan simpangan antar tingkat akibat gempa rencana dan berfungsi untuk membatasi terjadinya pelelehan baja dan peretakan beton yang berlebihan, di samping untuk mencegah kerusakan non-struktur dan ketidaknyamanan penghuni. Dalam bahasa gaulnya, batas layan ini dihitung agar ketika terjadi goyangan akibat gempa penghuni masih dalam kondisi nyaman (dalam arti penghuni dapat berjalan untuk melarikan diri). hehehe

Batas Ultimit  ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar-tingkat maksimum struktur gedung akibat pengaruh Gempa Rencana dalam kondisi struktur gedung di ambang keruntuhan, yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah benturan berbahaya antar-gedung atau antar bagian struktur gedung yang dipisah dengan sela pemisah (sela dilatasi). Dalam bahasa kerennya batas ultimit yaitu batas simpangan maksimum kemampuan gedung untuk menahan gaya gempa,

Untuk dapat mengetahui keadaan layan maupun ulitimit suatu gedung, kita perlu melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut berupa :

1. Memilih Analisis Gempa yang Akan Digunakan

Berdasarkan SNI 03 – 1726 – 2003 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanaan Gempa untuk Bangunan Gedung (Beta Version), cara analisa struktur akibat beban gempa ada dua, yaitu:

  1. Analisis statik ekivalen untuk gedung beraturan
  2. Analisis respons dinamik untuk gedung tidak beraturan

Untuk perencanaan gedung kali ini, menggunakan analisis statik ekivalen. Secara umum, berat bangunan yang akan menjadi beban gempa dapat dirumuskan sebagai berikut:

Berat total       = Beban Mati + Koefisien Reduksi × Beban Hidup

DL + 0,3LL

Dan berdasarkan SNI 03 – 1726 – 2002, dalam analisis beban gempa berat struktur harus diletakkan pada suatu pusat massa eksentrisitas rencana yang besarnya telah ditetapkan pada Pasal 5.4.3.

2. Mencari Berat Struktur yang Akan Direncanakan

Perhitungan beban gempa yang bekerja pada Lantai 1 sampai lantai 3 yang mana beban yang dihitung adalah Beban Mati (DL) pada tiap lantai tersebut. Beban mati tiap lantai tersebut dihitung seperti pada gambar dibawah ini.

Image

Gambar 2. Perhitungan Berat Perlantai

Beban mati yang dihitung berupa berat balok, kolom, lantai dan berat mati tambahan serta beban hidup yang bekerja. namun dalam penambahan beban hidup perlu dikalikan dengan faktor reduksi beban hidup yang angkanya tergantun pada keuatamaan struktur bangunan. Selain dengan menghitung manual berat struktur, bisa juga dihitung secara otomatis dengan program bantu ETABS. Perhitungan manual mudah saja digunakan jika bentuk bangunan sederhana dan simetris seperti gambar 2. Jika Bentuk struktur cukup rumit dan ditekan oleh owner agar perencana dapat merencanakan dengan cepat maka perhitungan secara otomatis bisa dilakukan dengan program ETABS.

3. Mencari Eksentrisitas Rencana (Ed)

Dalam mencari eksentrisitas rencana perlu diketahui pusat massa dan pusat rotasi dari suatu struktur. Setelah diketahui pusat massa dan pusat rotasi maka kita perlu membandingkan keduanya, jika eksentrisitas yang terjadi melebihi batas yang diijinkan, maka bentuk struktur perlu diganti. Perhitungan eksentrisitas rencana (ed) antara pusat massa dan pusat kekakuan lantai dapat menggunakan rumus berikut ini:

–          Untuk 0 < e ≤ 0,3b

ed         = 1,5e + 0,05b atau ed = e – 0,05b

–          Untuk e > 0,3b

ed         = 1,33e + 0,1b atau ed = 1,17e – 0,1b

4. Perhitungan Waktu Getar Alami

Dalam perhitungan waktu getar alami bangunan terdapat perbedaan di antara rumus yang digunakan dalam SNI 03 – 1726 – 2002 dengan SNI 03 – 1726 – 2003 dan SNI 03 – 1726 – 1991. Dalam perencanaan gedung kali ini rumus untuk menghitung waktu getar alami yang digunakan adalah yang ada pada SNI 03 – 1726 – 2003. Berdasarkan SNI 03 – 1726 – 2002, waktu getar alami fundamental T dari struktur harus dibatasi, bergantung pada koefisien  untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada dan jumlah tingkat n.

dimana koefisien ζ didapat dari tabel dibawah ini:

Tabel 1. Koefisien pembatas waktu getar alami

Wilayah Gempa

 ζ

1

0,20

2

0,19

3

0,18

4

0,17

5

0,16

6

0,15

Sumber : SNI 03 – 1726 – 2002

5. Perhitungan Koefisien Gempa Dasar (C)

Setelah diperoleh waktu getar alami bangunannya dengan menggunakan rumus empiris, maka berdasarkan SNI 03 – 1726 – 2002 Pasal 4.7.6, koefisien gempa dasarnya untuk jenis tanah dan wilayah gempa  didasarkan pada tabel 6

6. Perhitungan Gaya Geser Dasar Horizontal Total Akibat Gempa (V)

7. Analisis Waktu Getar Struktur dengan Cara T-Rayleigh

8. Distribusi Akhir Gaya Geser Dasar Horizontal

9. Analisis Kinerja Batas Layan (Δs)

10. Analisis Kinerja Batas Ultimit (Δm)

Untuk point 5, 6, 7, 8, 9 dan 10 bisa langsung dibaca saja di dalam contoh perencanaan gedung tahan gempa yang dapat di download di blog ini.

Untuk dapat memahaminya lebih dalam, rajin-rajin mencari referensi baik dari buku, ebook, dosen, seminar maupun para ahli yang ada didekat kita.

Atas kunjungan teman-teman sekalian saya mengucapkan banyak terimakasih. Semoga berkah untuk kita semua. Aamiin.

Wassalamu’alaikum wr. wb